Menyedihkan, Juara Olimpiade MIPA Belum Terima Hadiah

Lagi-lagi dari Harian Pelita saya menemukan berita yang membuat hati saya serasa dibakar, bahkan sempat berucap, “Ini keterlaluan!”.

Berita headline daerah yang dimuat di halaman enam berjudul “Siswa Berprestasi Menagih Janji, Penghargaan dan Hadiah Uang Belum Diterima” itu memaparkan adanya seorang siswa SD dari keluarga kurang mampu yang berprestasi dalam lomba sangat bergengsi, Olimpiade Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). Namun hadiahnya belum juga diterima.

Emang berapa miliar sih hadiah uang untuk juara Olimpiade MIPA itu, sehingga pihak panitia penyelenggara belum mampu memberikan hadiah yang merupakan hak mutlak pemenang?

Siswa itu, Samsul Bahri (11 tahun), murid Kelas V SD Negeri Sukamulya III, Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dia menjadi Juara II Bidang Studi Matematika dalam Olimpiade MIPA Tingkat Kabupaten Cianjur Tahun 2010, yang diselenggarakan beberapa waktu lalu. Tapi sampai sekarang hadiah berupa tropi dan uang pembinaan, belum diterima. Samsul yang bercita-cita menjadi guru itu baru menerima hadiah alakadarnya dari pihak sekolah berupa buku dan alat tulis (Pelita, Sabtu, 22/05/2010).

Sungguh menyedihkan. Hadiah untuk juara Olimpiade MIPA tingkat kabupaten, yang bisa dipastikan tidak akan mencapai ratusan juta (puluhan juta pun belum tentu), apalagi sampai miliaran, tega-teganya dianggap remeh oleh pihak panitia.

Padahal Olimpiade MIPA merupakan ajang lomba sangat bergengsi, sehingga bila ada siswa yang menjadi juaranya, kita langsung menganggap bahwa dia merupakan siswa yang cerdas, yang seharusnya mendapat perlakuan istimewa dari pihak instansi terkait. Ini malah hadiahnya saja belum diberikan. Jangan-jangan ada yang kurang beres di pihak panitia penyelenggara olimpiade yang khabarnya ditangani Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Cianjur?

Mungkin bagi sebagian orang, keterlambatan pemberian hadiah itu bukanlah hal yang substansial dari penyelenggaraan Olimpiade MIPA. Sehingga penantian Sang Juara untuk memperoleh haknya berupa hadiah uang dan tropi, dianggap sepele.

Tapi sesungguhnya keterlambatan seperti itu bukan saja mencederai harkat Olimpiade MIPA yang begitu bergengsi, tapi juga mengesankan bahwa Disdik kurang menghargai siswa berprestasi. Padahal pemberian hadiah justru dapat mendorong peningkatan prestasi yang bersangkutan. Apalagi bila melihat latar-belakang keluarga Samsul yang katanya tergolong warga kurang mampu, tentu hadiah berupa uang pembinaan akan sangat berarti.

Sayangnya hal-hal seperti itu tidak dipertimbangkan panitia penyelenggara. Mereka tampaknya menganggap remeh pemberian hadiah. Dan hal itu, saya kira, kurang mendidik, dan kurang sejalan dengan semangat Disdik sendiri, yang mengurusi dunia pendidikan.

11 komentar:

mundo_idiot mengatakan...

Masa Alloh ,, itu bisa terjadi bagaimana panitiannya itu , semoga hal itu tidak mengurangi semangatnya Amin

Junaedi Abdillah mengatakan...

Memang dunia ini tidak adil ya, oh ya salam kenal ya & kunjungi blog saya

rahmatea mengatakan...

itu mah sangat indonesia sekali kang.....

yang penting untuk diri sendiri dulu, orang lain mah nanti nanti saja ...itu juga kalau ingat!!!

mimpi di siang hari....jadi bangsa yang maju kalau pejabatnya seperti itu.

Welding is beautiful mengatakan...

Ada istilah dikampus saya ITS Sby.. mahasiswa miskin terakhir yang kuliah di ITS...
akankah pemerintah just diem spt ini trs..?

atok mengatakan...

percuma juara MIPA atau bahkan juara olimpiade MIPA sedunia, ujung2nya terlantar.. indonesia indonesia

abuy dinar mengatakan...

teungteuingeun.........tah panitia teh!
Kang link tos ditempel... di BUS...punten telat.

Fajar mengatakan...

waduh...kok nggak profesional gitu ya....salam kenal kunjungan balikk.....di pagi hari...

Herdoni Wahyono mengatakan...

Mengapa hal ini sampai terjadi ? Semoga masalah ini dapat segera diselesaikan dengan baik dan bijak. Kepada adik Samsul Bahri, kuucapkan selamat dan sukses! Semoga ke depan dapat meraih apa yang menjadi harapan dan cita-cita adik, amin.

Bunglon Blog mengatakan...

hmmm inilah negeri ini dengan segudang cermin yang tak mampu membuka segala sisi buruk yang terjadi dalam diri...semoga semua bisa teratasi.
selamat buat sahabat kecil yang berprestasi semoga kelak engkau bisa membuat negara ini lebih baik
Sukses Slalu!

NENSA MOON mengatakan...

Benar2 menyedihkan sekaligus sngtlah keterlaluan pihak yg telah menunda pemberian hadiah juara olimpiade MIPA tsb.
Semoga saja hal ini tidak mematahkan semangat Samsul Bahri untuk terus meningkatkan prestasinya di masa2 mendatang...

Indra mengatakan...

Ironis, potret Indonesia yang perlu lebih banyak di ekspose supaya memberikan pelajaran tak hanya untuk yg bersangkutan tapi untuk semua, mudah2n si anak tersebut segera mendapatakan apa yg menjadi haknya...sukses kawan!

Posting Komentar