Perempuan itu Menyerahkan Bayinya Kepadaku

Tuduhan bos benar-benar tidak masuk akal. Masa bos begitu yakin menuduhku bahwa aku telah menghamili seorang perempuan hingga punya anak, sementara sumber informasinya hanya berdasarkan keterangan teman-teman sekantor yang justru sama sekli tidak mengenal perempuan itu.

Atau, hanya karena di kantorku, kini, ada seorang bayi, yang sengaja diserahkan oleh perempuan itu kepadaku tadi siang, sehingga bos begitu yakin akulah ayah bayi ini? Akulah yang menghamili perempuan itu, dan bayi inilah buahnya? Atau hanya karena sebuah surat yang dialamatkan kepadaku, yang isinya mengesankan aku dan perempuan itu begitu akrab?

Bagiku bos telah sangat keliru.

“Jangan ngelak, Sid. Akui saja bahwa bayi ini benar anak kamu. Saya tidak akan memecat kamu hanya karena kamu menghamili perempuan itu sampai punya anak. Sebaliknya kalau kamu tetap tidak mau mengakui bayi ini anakmu, saya pecat kamu. Saya tidak ingin punya karyawan yang tidak bertanggung jawab,” kata bos, mengancam.

Wah. Bos ini keterlaluan. Mana mungkin aku mengakui sesuatu yang tidak pernah aku lakukan. “Percayalah Pak, ini bukan anak saya. Dan saya tidak mengamili perempuan itu. Kenalnya pun hanya selintas. Saya hanya ketemu tiga kali. Itu pun hanya sekilas-sekilas dan terjadi di tempat umum,” kataku membela diri.

Ya. Kali pertama ketemu dengan perempuan itu saat sama-sama numpang angkutan kota. Aku pulang dari rumah seorang sahabat, dan menunggu angkutan kota di sebuah pertigaan. Dia sudah ada di situ. Juga rupanya sedang menunggu angkutan kota yang sama. Sebab ketika sebuah angkutan kota yang kutunggu berhenti tepat di depanku, dia naik lebih dulu.

Dia duduk di sudut belakang sebelah kanan, dan aku di sudut belakang sebelah kiri. Praktis aku dan dia duduk berhadap-hadapan. Tak ada penumpang lain saat itu.

Sekilas aku perhatikan. Pakaiannya tampak sederhana. Setelan celana panjang jean warna coklat dengan t-shirt warna kuning. Wajahnya pun tanpa make-up. Sementara rambunya yang sebahu dibiarkan tergerai-gerai diterpa angin yang masuk melalui jendela angkutan kota yang dibiarkan terbuka separuhnya.

Kutaksir usianya sekitar 35 tahun. Tapi mungkin usia yang sebenarnya kurang dari angka itu. Mungkin dengan sedikit polesan bedak dan lipstick tipis di bibirnya, perempuan itu akan tampak lebih menarik, bahkan mungkin akan tampak lebih muda.

Tapi ada yang menarik di wajahnya. Tahi lalat kecil di bibir atasnya. Mirip tahi lalat yang ada di wajah teman SMA-ku, yang kini menjadi istri kedua seorang pejabat. Namun perempuan ini, sekalipun sama-sama memiliki tahi lalat di bibir atasnya, mungkin bukan istri pejabat, apalagi istri kedua pejabat, apalagi istri simpanan pejabat. Kalau benar menjadi istri kedua atau istri simpanan pejabat, dia tentu akan kelihatan sebagai perempuan pesolek yang berpakaian bagus, dan tubuhnya pun tentu wangi. Maksudku, dia pasti pakai wewangian yang mahal. Perempuan ini tidak begitu. Tak tercium wewangian dari tubuhnya. Wanginya khas bau perempuan.

“Uh, panas!” gumamnya seraya membuka kaca jendela angkutan kota lebih lebar lagi. Angin semakin deras menerpa rambutnya yang hitam. Tergerai-gerai dan terkadang menutupi wajahnya. Tapi sesaat kemudian dia menatapku. Katanya, “Tidak apa-apa kan kacanya saya buka?”

“Ndak! Ndak apa-apa!” kataku. Rupanya tadi dia sempat melihat jari tanganku yang menggisik-gisik kelopak mata karena ada debu yang masuk begitu kaca jendela mobil dibuka sepenuhnya. Aku memaklumi tindakannya. Apalagi memang udara saat itu terasa panas. Maklum musim kemarau. Sudah dua bulan di kotaku tak turun hujan.

Hanya begitu pertemuan pertamaku dengan perempuan itu. Tak ada percakapan lain kecuali dua kalimat itu. Bahkan di mana dia turun, aku tidak tahu. Sebab aku turun lebih dulu. Bahkan saat mau turun pun aku tak berkata apa-apa. Aku turun sebagaimana biasanya turun dari angkutan umum yang penumpangnya bukan orang-orang yang kukenal.

Begitu pun pada pertemuan kedua, sekitar tiga hari kemudian. Aku pulang dari kantor, dan sudah terbiasa menunggu angkutan kota di dekat persimpangan, tak jauh dari sebuah supermarket. Di tempat itu sudah berdiri seorang perempuan. Dia pun rupanya menunggu angkutan yang sama. Karena begitu angkutan kota yang kutunggu berhenti, dia naik lebih dulu, aku dibelakangnya. Aku dan dia duduk berdampingan, karena kali ini angkutan kota itu penuh.

Aku belum tahu waktu itu bahwa dia perempuan bertahi-lalat-di-bibir-atas. Aku baru tahu ketika penumpang lain satu demi satu turun, hingga tinggal aku dan perempuan itu. Tepatnya, ketika dia pindah duduk ke bangku di depanku. Sesaat dia sempat tersenyum kecil. Tapi hal itu tidak bisa dijadikan tanda bahwa dia masih mengenalku. Makanya aku diam saja, sekalipun sebetulnya ada keinginan untuk menyapanya. Tapi kemudian, ketika aku memperhatikan kantung plastik warna putih transparan yang bermerk sebuah toko supermarket di kotaku, muncul juga pertanyaan bodohku, “Itu susu ya?”

Perempuan itu tersenyum. “Iya. Ini susu bubuk buat bayi saya,” katanya seraya membetulkan letak kantung plastik yang disimpan di antara kedua kakinya.

“Oh…!”

Hanya itu percakapanku. Tak ada kata-kata lagi sepanjang perjalanan. Apalagi sampai berkenalan sambil bersalaman saraya menyebut nama masing-masing seperti lazimnya orang yang baru kenalan. Tak ada momen seperti itu. Sebab aku merasa, aku dan perempuan itu hanya kebetulan ketemu dalam angkutan umum, dan mungkin takkan ketemu lagi, sehingga aku tidak perlu mengetahui namanya. Apalagi alamatnya. Apalagi sampai menanyakan siapa ayah bayinya, siapa nama bayinya, perempuan atau laki-laki, dan pertanyaan-pertanyaan seterusnya.

Aku tidak berkata-kata lagi, atau bertanya ini-itu, bukan karena perempuan itu ternyata sudah bersuami, atau tepatnya sudah punya anak (kan punya anak, belum tentu identik dengan punya suami. Bisa saja anaknya itu anak haram, anak di luar nikah. Atau boleh jadi punya anak tapi sudah cerai dengan suaminya, atau mungkin juga suaminya sudah meninggal dunia). Bukan karena itu. Tapi karena aku memang tidak merasa perlu untuk mengenalnya lebih jauh.

Perempuan itu pun mungkin begitu. Sebab aku perhatikan dia sama sekali tidak memperlihatkan gelagat perempuan yang mau tapi malu. Tak ada sikapnya yang memancing reaksiku untuk bertanya. Dia bersikap biasa-biasa saja, seperti lazimnya penumpang dalam angkutan umum, yang sekalipun duduk berdempetan tapi masing-masing acuh tak acuh.

Pertemuan ketiga terjadi di sebuah toserba, esok harinya. Saat itu aku sedang mencari-cari pasta gigi dan sabun mandi di etalase keperluan rumah tangga. Mataku lekat pada deretan pasta gigi dan beragam sabun mandi sambil setapak demi setapak bergerak ke sebelah kanan. Dan tanpa sengaja aku menyenggol seorang perempuan yang juga rupanya sedang melakukan hal sama.

“Oh, maaf!” kataku.

Perempuan itu menatapku.

Dia lagi. Dia, perempuan bertahi-lalat-di-atas-bibirnya.

“Hey,” sapanya, “Ketemu lagi.”

Aku sedikit terkejut. Ternyata perempuan itu masih ingat kepadaku.

“Belanja?” katanya lagi.

“Iya. Stok di rumah habis.”

“Sama. Saya juga kehabisan stok. Kebetulan hari ini ada diskon gede-gedean.”

Aku tersenyum kecil. Kok alasannya sama.

“Saya putar-putar dulu ya. Mau cari sabun mandi buat si kecil,” katanya seraya menyelinap di antara etalase dan tubuhku. Sekilas tercium wewangian. Tapi aku tidak yakin apakah wangi yang hinggap di hidungku itu merupakan wewangian yang dipakai perempuan itu di tubuhnya, atau justru wewangian dari beragam sabun mandi dan sejenisnya yang ada di etalase.

Aku tatap kepergian perempuan itu hingga lenyap di balik etalase-etalase keperluan rumah tangga. Dan aku tidak melihatnya lagi hingga aku keluar dari toserba itu.

Hanya seperti itu pertemuan-pertemuanku dengan perempuan itu. Tidak lebih, tidak kurang. Bahkan namanya pun, sampai pertemuan ketiga itu, aku masih belum tahu. Apalagi tempat tinggalnya. Tapi bos tidak percaya pada ceritaku itu. Bos tetap menuduhku bahwa aku telah menghamili perempuan itu hingga punya anak. Bos menurutku sangat ngawur.

“Apakah menurut Bapak, saya menghamili perempuan itu di dalam angkutan kota atau di toserba?”

“Kenapa tidak? Bisa saja waktu itu kamu tidak tahan melihat perempuan itu, hingga rasa malumu hilang dan kamu berbuat tidak senonoh di tempat umum. Lagi pula omonganmu yang ngaku hanya kenal selintas, bertolak belakang dengan pengakuan perempuan itu. Dia mengaku mengenalmu dengan sangat baik. Namamu yang panjang disebutnya dengan benar dan jelas. Juga alamatmu. Dia menyebutkan alamat rumahmu dengan tepat.”

“Itu pengakuan dia kepada Bapak?”

“Bukan. Tapi stap saya yang mengatakan begitu, saat dia datang ke sini dan menanyakan kamu.”

Ya. Tadi siang seminggu setelah pertemuanku di toserba, perempuan itu datang ke kantorku. Aku sendiri tidak sempat ketemu, karena saat itu aku sedang keluar kantor untuk suatu keperluan. Malah kalau saja saat itu aku ada di kantor dan ketemu langsung dengan perempuan itu, mungkin takkan pernah ada peristiwa menghebohkan di kantorku: seorang perempuan meninggalkan bayinya di Kantor XYZ.

Kata Lusi, resepsionis di kantorku, perempuan itu sengaja datang untuk menemuiku. “Dia datang ke sini membawa bayi dan sebuah tas cukup besar. Saya bilang kepadanya, Bapak sedang ke luar kantor. Lalu saya suruh menunggu di ruang tamu. Sebab saya ingat pesan Bapak sebelum keluar kantor,” kata Lusi.

Memang sebelum pergi, tadi pagi, aku titip pesan kepada Lusi bahwa kalau ada yang mencariku suruh menunggu. Sebab kemarin aku menyuruh seorang teman yang akan merencanakan suatu kegiatan sosial untuk datang ke kantorku hari ini. Salahnya, pesanku kepada Lusi kurang rinci, sehingga Lusi menganggap perempuan itulah tamu yang akan menemuiku.

Lalu kehebohan terjadi ketika perempuan itu pergi dengan meninggalkan bayinya tertidur pulas di kursi tamu.

“Sebelum menghilang, dia sempat menanyakan kamar kecil,” cerita Lusi. Katanya dia kebelet, ingin buang air kecil, dan meminta Lusi menjagakan bayinya sebentar. Lusi awalnya tidak curiga ketika sampai sepuluh menit dia belum kembali.

“Saya pikir mungkin kebeletnya keterusan. Lagi pula bayi itu tertidur pulas. Tapi setelah 20 menit belum kembali juga, saya penasaran. Saya pergi ke belakang. Saya ketuk pintu kamar kecil. Saya dengar dari dalam ada suara perempuan yang berkata, `sebentar`. Saya pikir itu suara perempuan itu. Saya kembali ke depan. Saya lihat bayi itu. Masih tertidur pulas. Tapi entah mengapa saya merasa tidak enak. Saya kembali ke belakang, pas ketika itu pintu kamar kecil dibuka dari dalam, lalu Ambar keluar sambil mijit-mijit perutnya seraya berkata, `Maaf, Lus, agak kelamaan. Lagi sakit perut nih!` Saya terpana. Lho, perempuan tadi ke mana?”

Maka hebohlah di kantorku. Perempuan itu lenyap dengan meninggalkan bayinya. Dan aku, tentu saja menjadi sasarannya.

Aku dipanggil bos ke ruangannya, ditanya ini-itu hingga hal-hal kecil dan sangat pribadi. Alasannya, perempuan itu datang ke kantor karena ingin menemuiku. Apalagi dia juga meninggalkan sepucuk surat yang dialamatkan kepadaku, serta sebuah potret ukuran poskar yang memang bergambar perempuan bertahi-lalat-di-bibir-atas. Potret dan surat itu, kata Lusi, terjatuh dari lipatan pakaian sang bayi saat seorang karyawan perempuan merengkuh bayi itu ke pangkuannya.

Bos rupanya telah membaca surat itu pula. Sehingga dengan keterangan dari para karyawannya dan isi surat itu bos dengan gampang berkesimpulan bahwa aku telah menghamili perempuan itu hingga punya anak.

“Kamu harus bertanggung jawab,” kata bos sambil melemparkan surat dari perempuan itu ke hadapanku. “Saya tidak ingin suatu hari saya mendengar bahwa bayi milik perempuan itu berada dalam asuhan orang lain. Kecuali memang kamu sudah tidak betah bekerja di sini.”

Bos lagi-lagi mengancam.

Aku baca surat itu. Isinya tidak terlalu panjang dan tanpa nama pengirimnya. “Saya titip bayi saya. Dua tahun kemudian saya akan mengambilnya lagi. Terpaksa saya meninggalkannya karena saya akan bekerja di luar negeri. Saya percaya kamu bisa merawatnya. Jangan khawatir soal biaya. Saya akan kirim kamu sejumlah uang tiap bulannya melalui rekening ini….” Ada nomor rekening sebuah bank. Dan itu nomor rekening tabunganku.

Dari mana dia tahu nomor rekeningku? Dari mana pula dia tahu nama lengkapku, alamat rumahku, tempatku bekerja? Dan – ini yang membuat aku bingung setengah mati – kenapa dia tidak menyebutkan namanya, alamat rumahnya, nama bayinya dan sebagainya identitas diri yang memungkinkan aku dengan mudah menemukan keluarganya. Dia sealah-olah tidak mau ditemukan keberadaannya.

Celakanya, dengan ketiadaan identitas perempuan itu, semua rekan di kantor, apalagi bos, tidak percaya bahwa aku tidak benar-benar mengenal perempuan itu.

“Mustahil, Sid, kamu tidak mengenalnya dengan baik. Coba simak isi suratnya. Surat semacam itu hanya mungkin dibuat oleh dua mahluk yang sudah sangat kenal luar dalam,” kata Lusi. Rupanya sebelum diberikan kepadaku, surat dari perempuan itu telah lebih dulu menyebar di kantorku.

“Lihat, Sid, bayi ini,” kata Ambar, “Coba perhatikan baik-baik parasnya. Ada garis-garis yang mirip dengan kamu. Terlebih lagi alisnya.”

Edan! Orang-orang di kantor bukannya mendukung ceritaku. Mereka malah memperkuat kesimpulan bos, yang aku pikir sangat tidak masuk akal.

4 komentar:

kibagus mengatakan...

cerita yang menarik...!!!
nice posting...!!

Lulus Sutopo mengatakan...

Bagus Pak ceritannya,..
Ayo semangat dan teruskan postingannya..
Salam kenal dan sukses selalu

NENSA MOON mengatakan...

Menarik nih ceritanya....
Kasian banget, si tokoh harus menanggung tuduhan yang tidak pernah diperbuatnya.
Ngomong2 ini kisah real atau hanya fiksi aja...jadi penasaran...

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

waduh, kasihanbnaget. gak berbuat dituduh.

Posting Komentar