Berlomba-lomba untuk Menjadi Pemimpin

Ada hal yang sangat menarik di negeri ini pasca kran demokrasi dibuka selebar-lebarnya. Yakni, ternyata begitu banyak orang yang berambisi menjadi pemimpin. Orang berlomba-lomba bikin partai politik dengan harapan akan terpilih menjadi menteri – kalau mungkin presiden – atau paling tidak menjadi anggota DPR/DPRD. Dan ketika pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) dibuka, orang pun berlomba-lomba mengejar kursi gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, walikota/wakilwalikota.

Termasuk di situ, para selebritis kita. Ada belasan artis yang coba-coba terjun ke dunia politik dan ikut pemilukada. Mereka rupanya belum puas atas peran keartisannya yang “sekedar” menghibur halayak, sehingga mereka lalu terjun ke dunia politik dan pemerintahan supaya, mungkin, perannya bisa lebih luas dan terasa oleh rakyat. Atau lebih jauhnya barangkali mereka menganggap dunia politik dan pemerintahan sama saja dengan dunia hiburan: membuat rakyat senang? Saya tidak tahu.

Yang jelas, sebagian dari para selebritis itu gagal karena hanya menawarkan populeritas, sebagian lagi beruntung bisa duduk di kursi DPR/DPRD atau menjadi pemimpin di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Soal sejauh mana peran dan tugas mereka selama menjadi anggota DPR/DPRD atau kepala/wakil kepala daerah, saya tidak tahu, mungkin Anda sendiri bisa menilainya.

Salahkah mereka yang berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin, khususnya pemimpin rakyat? Tidak. Sama sekali tidak salah. Bahkan hal itu termasuk hak asasi yang dijamin undang-undang bahwa setiap warga negara di negeri ini punya hak dan kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin. Hanya saja persoalannya kemudian tidaklah sesederhana itu. Menjadi pemimpin bukan sekedar hak, tapi juga ada kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi. Inilah alasan mengapa tidak semua orang layak jadi pemimpin. Bahkan ada yang mengatakan pemimpin (untuk rakyat) itu bukan diciptakan, tapi dilahirkan.

Hal itu mungkin karena adanya kecakapan-kecakapan atau sifat-sifat tertentu yang tidak dimiliki oleh setiap orang, misalnya kharisma. Pemimpin yang kharismatik umumnya menjadi idola rakyat dan perintah-perintahnya akan secara ikhlas dipatuhi dan dilaksanakan. Sebaliknya dalam sebuah pemerintahan yang dikendalikan pemimpin karbitan, akan mudah ditemukan adanya pembangkangan-pembangkangan, sehingga capaian program yang diinginkan pemimpin tersebut sulit terealisasikan.

Memang pemimpin kharismatik susah dicari. Tapi ada sifat lain yang agak mendekati sifat kharismatik, yakni wibawa dan ini bisa diciptakan oleh yang bersangkutan dengan cara bersikap tegas, jujur, adil, cepat tanggap, penuh perhatian kepada nasib rakyat serta tidak mementingkan dirinya sendiri, keluarga dan kelompoknya, Perintah-perintah dari seorang pemimpin yang berwibawa, umumnya dipatuhi dan dilaksanakan, sehingga capaian program yang diinginkannya pun akan mudah terwujud.

Saya sebetulnya percaya mereka yang berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin rakyat itu, termasuk dari kalangan selebritis, sudah menyiapkan bekal kepemimpinan yang memadai, serta memiliki sifat-sifat yang akan menjadikan mereka sebagai pemimpin yang berwibawa, kalau mungkin kharismatik.

Tapi di sisi lain, saya agak curiga manakala melihat cara mereka dalam mengejar kursi pemimpin itu, yakni dengan cara “membeli suara rakyat” alias membagi-bagikan uang kepada rakyat agar rakyat memilihnya. Biasanya cara seperti itu akan melahirkan pemikiran “bagaimana saya bisa secepatnya mengembalikan modal” ketika mereka terpilih sebagai pemimpin rakyat. Inilah persoalan yang umum terjadi dalam sebuah pemerintahan yang pemimpinnya muncul melalui proses pemilihan langsung oleh rakyat -- di negeri kita tentu saja. (Gambar diambil dari English-Online)

16 komentar:

bolehngeblog mengatakan...

sy pilih jadi rakyat jelata aja lah...biar nyaman tidak dikejar-kejar KPK

NENSA MOON mengatakan...

Begitu banyaknya orang berlomba2 utk menjadi pemimpin... sepertinya jabatan pemimpin di negri ini begitu menggiurkan...?!
Terlepas apapun motivasi mereka menginginkan jabatan ini... saya berharap smg saja rakyat bisa memilih pemimpin yang benar2 sesuai dgn harapan...

aan mengatakan...

begitulah untuk sekedar mencari pemimpin yang baik di mata rakyat perlu biaya yang tidak sedikit,,

artis nyalon?hmmmm...*mikir :)

orang kampung mengatakan...

kalau saya perhatiin diantara para artis yang terjun kedunia politik itu rata-rata gak laku lagi didunia glamour atau sepi job, maklumlah.. biasa banyak duit dan gaya hidup seleb, ketika gak laku lagi jadi pilih cara instant deh buat dapet gajih buta, ya gitu.. terjun kedunia politik, jadi anggota dewan atau walikota atau wawali dsb, mereka sudah menang popularitas, kerjanya sedikit.. uang gajihnya banyak..
instan deh caranya.. dan kembali tajir akibat gajih buta tadi..

acacicu mengatakan...

Sama seperti Bapak, saya juga 'agak' curiga bila melihat apa yg sudah terjadi. Benarkah mereka yg berbondong2 membidik kursi kepemimpinan itu benar2 murni punya tujuan mensejahterakan rakyat? Entahlah. Barangkali sudut pandang saya saja yang salah. Atau, saya sudah terlalu lelah berbaik sangka? Haha..Ndak tau dah Pak; Tapi saya cukup terhibur dengan pemimpin2 yang ikhlas dlm memangku jabatannya..Sayangnya jumlahnya tidak banyak; Ohya Pak, salam kenal..Ini kunjungan pertama saya.

Herdoni Wahyono mengatakan...

Ulasan yang amat menarik sekali. Berlomba-lomba untuk menjadi 'pemimpin'. Fenomena yang amat menarik pasca dibukanya kran demokrasi yang luas di Indonesia. Mereka berebut dalam pemilu legislatif, pemilihan Kepala Daerah baik Bupati/Wakil Bupati maupun Gubernur/Wakil Gubernur. Ada yang terpilih dari kalangan birokrasi, pengusaha, tokoh politik dan artis. Memang tidak mudah untuk menjadi seorang pemimpin. Perlu persyaratan untuk menduduki jabatan tersebut termasuk kewibawaan, kharisma dan mumpuni. Tidak cukup hanya ketenaran dan modal yang cukup besar. Hal yang terpenting adalah kedudukan atau jabatan itu amanah. Amanah tersebut harus dijalankan dengan sebaik-baiknya dan selurus-lurusnya demi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

Ferdinand mengatakan...

Jujur aku udah agak males ngomongin tentang Pemimpin bangsa ini Mas.... waktu kampanye mereka selalu menyuarakan akan menyejahterakan rakyat.... tapi saat duduk di kursi enak itu.. mereka udah lupa akan semua itu.. dan berusaha gimana caranya supaya semua uang yg mereka keluarkan ketika pemilu balik lagi termasuk dengan korupsi...... Smoga para pemimpin bangsa ini dibukakan mata hatinya.....

Maaf baru bisa berkunjung mas... Semangat n happy blogging...

Darin mengatakan...

Saya suka dengan opini di alinea ke-4. Itu lah pak, sepertinya hal yg menggejala di para 'pemimpin' negri ini adalah terus menerus menuntut hak dan melalaikan kewajiban.

Terus terang saya agak ketar-ketir menghadapi masa depan bangsa ini yg kian hari kok semakin ngga punya tujuan.

Namun semestinya semangat tuk perubahan harus tetap ada, dan semoga bangsa ini menemukan pemimpin2 yg sejati, bukan pemimpin yang suka memperkaya diri.. amiin.

joe mengatakan...

tapi jaman sekarang susah mencari pemimpin yang baik, semua hanya mengejar uang dan kekuasaan semata

Arif Chasan mengatakan...

Alangkah lucunya negeri ini by Deddy Mizwar.. hehehe... ^^

rizal mengatakan...

banyak orang yang berlomba2 untuk menjadi seorang pemimpin tadi sangat sulit untuk mencari orang yang bisa memimpin.

kadang aku juga bingung kenapa orang berlomba2 untuk menjadi pemimpin, apa yang mereka cari kekuasaan? kemewahan? padahal jadi seorang pemimpin itu tanggungjwabnya sangat berat semakin banyak yang kita pimpin semakin besar tanggungjawab kita baik didunia apalagi di akherat kelak...

dan pemimpin yang baik itu bukan keberadaannya dimunculkan tapi muncul dengan sendirinya...

good post

Bunglon Blog Indonesia mengatakan...

beginilah negeri ini mas, semua orang ingin menjadi pemimpin dan mempunyai kekuasaan penuh atas negara ini. namun apakah mereka sanggup dan yakin bisa menjalankan amanah rakyat, mensejahterakan rakyatnya, sementara orang² kecil semakin terpencil mampukah mereka memberikan sedikit kesejahteraan untuk rakyatnya nanti, semoga..
Sukses Slalu!

Fajar mengatakan...

hayoo...siapa yang mau..jadi pemimpin. yang amanah....pintu terbuka lebar...

Victor Rizal F mengatakan...

Ketika usia saya beranjak 17th, untuk pertama kalinya saya merasakan atmosfer itu pak. Uang untuk jabatan dan kemudian jabatan untuk uang. Jika saja perlombaan menjadi pemimpin itu didasarkan pd rasa cinta tanah air dan keinginan tulus untuk memajukan bangsa, saya rasa sah sah saja. Dgn begitu setiap orang akan terpacu untuk memenangi perombaan dengan cara sehat, dg otak dan skill..

Bang rachmat mengatakan...

banyak calon pemimpin negeri ini yang mempunyai motivasi untuk menjadi pemimpin hanya karena uang dan kemudahan fasilitas, itu hal yang utama untuk mereka masalah kesejahteraan rakyat entah masuk nomor berapa dalam prioritas mereka.

abuy dinar mengatakan...

Yg dbahas Kang Arus dari pemimpin Bupati/wali kota ke atas. Saya malah melihat lebih bawah: Pemimpin Kepala Desa, ternyata banyak juga peminatnya. Bulan lalu desa kami PILKADES, calon nya ada 6, padahal aturan maximal 5 calon Kades. Overload....carut marut...

Posting Komentar