Tergoda Siswi SMP

Tergoda siswi SMP? Ah, yang benar? Sungguh saya pernah tergoda siswi SMP. Benar-benar tergoda sehingga saya susah tidur, susah makan, susah konsentrasi dan susah-susah semacamnya. Pokoknya segala susah akibat godaan siswi SMP itu. Dan hal itu kini terkenang kembali, lalu mendorong saya untuk menuliskannya, sehingga postingan kali ini yang mestinya melanjutkan cerpen Dang Didung Ikut Pemilukada bagian kedua alian bagian terakhir, terpaksa saya tunda (tapi percayalah cerpen itu akan saya tuntaskan karena naskahnya sendiri sudah selesai dibuat).

Kembali kepada godaan siswi SMP. Ceritanya terjadi sekitar akhir tahun 70-an. Saya tulis saja sekolahnya, yakni SMPN 2 Cianjur, Jawa Barat. Sedangkan nama siswinya… Ah, sebaiknya tidak saya sebut. Saya khawatir kalau namanya ditulis, dia jadi ingat saya. Mending kalau cuma ingat, bagaimana kalau dia ingin merealisasikan godaannya berupa keinginan untuk hidup bersama dengan saya (ah, ge-er!) karena misalnya dia saat ini sedang menjanda?. Berabe jadinya, karena sekarang saya telah berkeluarga, punya anak-istri yang sangat saya cintai. Jadi saya sebut saja dia sebagai Siswi SMP, biar tak ada yang ngejar-ngejar saya (ah, ge-er lagi!).

Saat itu saya duduk di kelas dua di SMP yang sama. Dengan kata lain, Siswi SMP itu teman sekelas saya. Awalnya memang saya tidak begitu memperhatikan Siswi SMP itu, karena saya anggap tak ada istimewanya. Kalau pun dibilang cantik, teman-teman cewek sekelas lainnya juga cantik-cantik dan manis-manis. Tapi suatu ketika saya benar-benar terpesona: pada jam istirahat pertama (hari, tanggal dan bulannya lupa) saya lihat Siswi SMP itu sedang duduk sendiri di bangkunya, tampak termenung sambil menggigit bibirnya yang merah (merah asli dari sananya, bukan merah lipstick). O, sungguh pemandangan yang luar biasa! Dimata saya saat itu, Siswi SMP itu menjadi demikian teramat cantik.

Sejak itulah saya tergoda dia. Dan diam-diam saya sering mencuri pandang. Lalu kalau dia balik memandang, saya buru-buru menunduk atau memalingkan muka ke mana saja. Saya belum berani adu tatap, bahkan untuk sekedar menyapanya saja, saya seolah-olah kehilangan nyali, padahal dia teman sekelas dan saya bisa ngomong apa saja. Akibatnya jadi parah: saya dibayang-bayangi Siswi SMP itu kemana pun saya melangkah.

Baru beberapa pekan kemudian saya mulai berani menyapanya dengan berpura-pura pinjam buku catatan pelajaran tertentu, karena sebelumnya saya tak sempat mencatat (waktu itu penjelasan guru lebih banyak dicatat siswa, karena belum ada buku paket yang dijual paksa kepada siswa-siswi, kecuali beberapa buku pelajaran yang disediakan sekolah). Tapi hanya sebatas itu. Saya tetap belum punya nyali untuk mengungkapkan perasaan saya, sekalipun misalnya melalui tulisan di buku-buku catatannya yang pernah saya pinjam (lebih tepatnya barangkali, saya takut kalau menulis sesuatu di bukunya, lantas diperlihatkan kepada teman-temannya, wah malu saya!).

Itukah yang namanya cinta monyet, atau lebih tepatnya cinta anak monyet? Soalnya kalau cinta monyet, kedua belah pihak sama-sama mengungkapkan perasaannya masing-masing, lalu bertengkar karena hal-hal kecil, lalu baikan kembali, bertengkar lagi, baikan kembali, lalu putus. Sedangkan cinta anak monyet, tidak begitu. Yang namanya anak `kan belum bisa mengungkapkan perasaannya (ah, konyol!). Jadi saya pun waktu itu agaknya sedang dilanda cinta anak monyet.

Celakanya cinta gaya anak monyet itu berlangsung terus. Saya tetap tidak terus-terang bahwa saya teramat menyukai Siswi SMP itu. Saya hanya bisa mencuri-curi pandang, atau pura-pura pinjam buku catatannya agar saya bisa berdekatan. Dengan kerelaannya memberi pinjaman buku itu pun, saya sudah merasa senang. Lebih senang lagi kalau secara kebetulan makan bakso berdua di kantin sekolah. Tapi tetap tak ada yang terungkap. Dan hal itu berlangsung hingga saya dan Siswi SMP itu, lulus dan keluar dari SMPN 2 Cianjur.

Tentu saja saya merasa kehilangan. Tapi cinta anak monyet rupanya tidak berkembang menjadi cinta monyet apalagi cinta beneran. Saya hanya merasa kehilangan, tapi tidak berupaya untuk mengejarnya. Terlebih lagi SLTA yang kami tempuh kemudian, berbeda. Dan secara perlahan saya melupakannya. Apalagi sejak lulus SMP, saya tidak pernah ketemu lagi. Memang pernah ada khabar, katanya mantan Siswi SMP itu menikah diusia muda, lalu dibawa suaminya ke kota lain. Sampai sekarang belum ada khabar lagi. Saat reuni tahun lalu, mantan Siswi SMP itu tidak hadir. Ketika saya tanya teman-teman, jawabnya tidak tahu, karena alamatnya sekarang juga tidak tahu.

Begitulah cerita kecil tentang Siswi SMP yang pernah menggoda saya. Dan saya tidak tahu apakah kisah Tergoda Siswi SMP ini dapat menjadi keyword yang ampuh untuk meminimalisir munculnya konten siswi SMP berkonotasi negatrif dalam mesin pencari? Yang jelas saya sependapat dengan teman-teman bloger lain yang lebih dulu menulis postingan tentang pelajar atau siswa-siswi SMP sebagai SEO tandingan untuk melawan SEO berkonotasi nagatif menyangkut siswi SMP, bahwa keyword siswi SMP ketika ditulis di mesin pencari haruslah memunculkan konten tentang siswi SMP dalam pengertian dia adalah pelajar yang sedang menuntut ilmu di Sekolah Menengah Pertama; bukan konten yang lain-lain apalagi video atau gambar siswi SMP yang tengah berbugil-ria.

13 komentar:

Fajar mengatakan...

weks...clbk ya...om...he..he...

om rame mengatakan...

masa itu, saya pun mengaLami dan sangat indah untuk diLaLu dan sangat disayangkan untuk meninggaLkannya. dan kini hanya meninggaLkan kenangan manis yg suLit untuk diLupakan, saat berjumpa kembaLi dengan mereka seLaLu teringat indahnya saat masa2 cinta monyet yg berharu biru.
SMP, sesuai dgn kepanjangannya Sekolah Menegah Perama. dimuLai dari siniLah kepribadian seseorang dibentuk untuk mendapatkan jadi diri yang sebenarnya, karena faktor Lingkungan Luas sangat mempengaruhi akan priLakunya. sehingga diharapkan kita sebagai orang yg Lebih dewasa dapat mengarahkannya pada priLaku2 yg Lbh baik dari generasi sebeLumnya.
mengingat keyword SMP sering disaLahgunakan oLeh oknum tertentu, saya menjadi miris daLam meLihatnya. semoga dengan perbaikan2 seperti ini merupakan sebuah awaL yg baik daLam mengarahkan makna SMP yg sebenarnya.

Ferdinand mengatakan...

Ehm... Susah suit haha... si akang lagi nginget Cinta lama nie hhe...... tapi emank gtu ya kang,,... knp ya selalu langsung pura2 gak ng'liat klo lagi jatuh cinta haha..... aku juga jadi penge nostalgia ni haha..

joe mengatakan...

wah, ikutan kontes juga ya? semoga sukses deh....

bolehngeblog mengatakan...

mungkin karena anak SMP lebih "fresh" dibanding istri ya pak...hehehehe

Herdoni Wahyono mengatakan...

Nostalgia semasa di SMP. Begitu indah dan mengesankan, namun sayang tiada kata yang terungkap. Hanya curi pandang dan tatapan sekilas penuh arti. Masa SMP memang salah satu masa terindah untuk dikenang. Kita serius, tertawa, menangis dan tersenyum simpul dibuatnya. Alangkah indahnya hidup ini.

Lulus Sutopo mengatakan...

Wah banyak Anak SMP berkeliaran di dunia Net,,,Pak Rasyid

o0z mengatakan...

keren kang critanya ....hi hi

Elvindinata mengatakan...

hehehehe,,,waaahhh,,,godaan anak SMP memang dahsyat yah,,xixixi ^^

mixedfresh mengatakan...

wah sepertinya waktu masih smp rata2 kaya gitu ya, malu2 kucing sama yang lagi ditaksir, hehehe...
jadi inget ma jaman smp dulu..

Gilang kurniaji mengatakan...

Rasa cinta terhadap seseorang memang kadang unik dan sulit diprediksi. Saya teringat dulu ketika SMA, karena hanya ingin diperhatikan "someone". Maka saya berubah menjadi orang yang puitis dan melankolis. Sampai-sampai saya mampu membuat cerpen dan puisi yang masuk daftar isi di majalah sekolah. Padahal biasanya saya enggan untuk menulis. Hehe...
Dan akhirnya kejadian itu menumbuhkan rasa cinta lain. Cinta untuk menulis...

Puguh dp mengatakan...

Hmm cerita kenangan silam nih ..hehehe ..

saya setuju dgn bait terakhir bhw keyword siswi SMP haruslah memunculkan konten tentang siswi SMP yang emang tugas utamanya belajar & berkaitan dgn konten pendidikan ..

Manajemen Emosi mengatakan...

Ayo tunjukkan rasa Nasionalisme dalam NASIONALISME BLOGGER CINTA INDONESIA...ikut ya mas...

ditunggu konfirmasinya he he he

Posting Komentar