Dang Didung Ikut Pemilukada (1 dari 2)

Dang Didung tertawa terbahak-bahak ketika lima orang tamu yang belum lama dikenalnya, setelah ngobrol kesana-kemari, mengemukakan maksud utama kedatangannya ke rumah Dang Didung malam itu. Katanya mereka sepakat untuk mengusung Dang Didung sebagai bakal calon bupati.

“Ha ha ha ha ha…” Dang Didung masih terus terbahak. Sebab bagi Dang Didung, ucapan tamu-tamunya itu terasa amat lucu, bahkan lebih lucu dari tingkah Mr.Bean yang sering ia tonton di televisi.

“Kami serius!” tegas salah seorang dari mereka, yang kemudian di-iya-kan oleh teman-temannya. Dang Didung pun menghentikan tawanya. Tapi suara “heheheh” masih juga keluar dari mulutnya.

“Kami memang bukan petinggi partai politik,” kata orang itu lagi, “Tapi sekarang ini, seperti yang Bapak ketahui, untuk menjadi calon bupati atau wakil bupati itu bisa melalui jalur independen. Nah, kami akan mengusung Bapak melalui jalur independen.” Lalu orang itu melirik kepada lelaki setengah baya yang duduk di sampingnya, yang dikenal Dang Didung sebagai Kang Natasukma, seraya berkata lagi, “Coba, Kang, terangkan seterang-terangnya.”

Kang Natasukma, yang dikenal Dang Didung sebagai insinyur pertanian yang mengaplikasikan ilmunya secara langsung dengan menjadi petani itu, menyorongkan tubuhnya ke depan. “Begini Pak Dading,” katanya, “Kami ini kecewa menyaksikan kondisi daerah kita dalam empat tahun terakhir. Kami rasa tak ada kemajuan. Bupati dan aparatnya sibuk dengan urusannya masing-masing. Rakyat kurang terperhatikan. Korupsi merajalela, sekalipun memang susah dibuktikan. Atau barangkali tepatnya, para penegak hukum tidak pernah serius mengusut kasus-kasus dugaan korupsi. Akankah begini seterusnya?”

Dang Didung tidak bereaksi. Tapi hati kecilnya mengakui apa yang dipaparkan Kang Natasukma benar adanya. Daerahnya, yang merupakan tempat dia dilahirkan, dibesarkan dan didiami hingga kini, terkesan mundur. Pembangunan mandeg. Isu korupsi hampir setiap hari ia dengar.

“Sekarang menjelang pemilukada,” kata Kang Natasukma selanjutnya, “Para birokrat yang berambisi menjadi bupati atau wakil bupati, sudah sibuk menggalang dan menjalin komunikasi dengan partai-partai politik. Begitu pun incumbent. Mereka sudah lupa pada kewajibannya mengurus rakyat. Nanti pun boleh jadi ketika mereka terpilih, mereka lupa mengurus rakyat. Makanya harus ada perubahan.”

Dang Didung setuju. Memang harus ada perubahan. Tapi siapa orangnya yang akan mampu membenahi aparatur ketika hampir semua pejabat telah terkontaminasi virus korupsi?

“Dalam setahun terakhir, secara diam-diam kami telah meneliti dan mengkaji tokoh-tokoh daerah, di luar kaum birokrat, yang akan kami usung sebagai bakal calon bupati. Tapi semua tokoh itu tidak memenuhi kriteria yang kami inginkan, kecuali satu, seorang tokoh sekelas ketua RW yang namanya dikenal oleh hampir semua ketua RW dan RT di kabupaten ini. Karena ketua RW itu merupakan ketua RW teladan dalam tiga tahun terakhir. Ketua RW itu tak lain Pak Didung sendiri,” papar Kang Natasukma seraya menatap Dang Didung.

“Tapi tentu saja,” lanjut Kang Natasukma, “bukan hanya karena Pak Didung punya nilai elektabilitas seperti itu saja bila kami lantas memilih Bapak. Tapi juga karena hal lain. Kami tahu Pa Didung dan keluarga merupakan orang yang benar-benar taat beribadah. Kami tahu Pak Didung, sekalipun hanya seorang pedagang kecil di pasar tradisional, tapi sudah terkenal kejujurannya di kalangan konsumen pasar tradisional.”

Dang Didung agak mengerutkan keningnya. Kang Natasukma kok tahu siapa dirinya. Atau memang dalam setahun terakhir ini, dirinya diam-diam dipantau kelompok lima ini?

“Satu hal lagi yang terpenting,” kata Kang Natasukma, “Putra-putri Pak Didung masih balita, dan mereka dalam asuhan seorang ibu yang begitu solehah. Mengapa ini sangat penting dalam kriteria bakal calon bupati yang kami tentukan, sebab anak-anak dan istri seringkali menjadi biangkerok dan pangkal penyebab suami melakukan tindakan koruptif. Bahkan tak jarang, istri dan anak ikut campur urusan pemerintahan.”

Dalam hatinya Dang Didung membenarkan. Soalnya selama pemerintahan sekarang, banyak isu yang berkembang seputar anak dan istri bupati. Anak-anaknya yang telah dewasa kerap disebut-sebut menjadi agen proyek: merekalah yang mengatur siapa rekanan yang layak mendapatkan suatu proyek, sekalipun formalnya proyek itu ditenderkan. Lalu istrinya, kerap disebut sebagai orang yang berada di balik promosi dan mutasi jabatan. Artinya dialah yang menentukan siapa pejabat yang harus dimutasikan, siapa yang harus dipromosikan dan siapa yang harus disingkirkan.

“Berbeda kalau putra-putri bupati itu masih balita yang diasuh seorang ibu yang benar-benar solehah, yang mengerti mana haram, mana halal, mana pekerjaan suami, mana pekerjaan istri. Juga anak-anak yang masih balita, mana mungkin mereka tahu urusan proyek,” kata Kang Natasukma seraya menegaskan, “Dari kriteria itu, Pak Didung layak kami usung sebagai calon bupati.”

Dang Didung tertawa kecil. Lalu katanya, “Kalau pun saya siap, siapa yang akan menjadi wakil bupatinya? Siapa pula yang akan mendanainya? Bukankan untuk menjadi calon bupati atau wakil bupati itu butuh dana miliaran rupiah? Sedangkan saya hanyalah seorang pedagang kecil di pasar tradisional.”

“O, itu! Tadi saya lupa menyampaikannya.” Orang yang duduk di samping Kang Natasukma cepat menimpali. “Orang yang akan jadi wakil Pak Didung tak lain Kang Natasukma. Ada kesamaan di antara Pak Didung dan Kang Natasukma. Sama-sama taat beribah, punya istri solehah dan putra-putrinya juga masih balita.”

“Lalu soal pendanaannya?” Dang Didung penasaran.
“Pak Didung jangan khawatir soal biaya,” kata orang itu lagi, “Sebab kami telah menyiapkan segalanya. Bahkan kami jamin Pak Didung takkan mengeluarkan uang sepeser pun untuk pencalonan ini.”

“Betul, Pa Didung,” sambung Kang Natasukma, “Kami telah menyiapkan Rp10 miliar, itu pun kalau Pak Didung percaya. Tapi kami juga harus terus-terang kepada Pak Didung bahwa dana sebesar itu bukan untuk dibagi-bagikan kepada rakyat agar mereka nanti memilih kita.”

Dang Didung agak mengerutkan keningnya. Sebab dalam pemahamannya, biaya yang dikeluarkan seorang calon bupati itu bukan hanya untuk melengkapi persyaratan, tes kesehatan, bikin kaos, baliho, spanduk, stiker dan semacamnya, tapi juga untuk dibagi-bagikan kepada rakyat supaya rakyat nanti memilihnya. Makanya dana yang harus disiapkan sangat besar. Tapi para calon mau mengeluarkannya. Sebab bila terpilih, dalam sesaat modal itu sudah bisa dikembalikan. Caranya, ya kalau tidak dengan menggerogoti APBD, apa lagi?

“Kami takkan membeli suara rakyat,” kata Kang Natasukma, “Kami justru ingin memberi pendidikan politik yang benar kepada rakyat, bahwa mereka memilih calon pemimpin bukan karena calon pemimpin itu telah memberi mereka uang atau sembako alakadarnya, atau telah memberikan bantuan dana untuk memperbaiki tempat-tempat ibadah, sarana air bersih, perlengkepan olah raga dan sebagainya. Tapi mereka memilih calon pemimpin itu karena memang mereka melihat bahwa calon pemimpin itu amanah dan akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik dikemudian hari.”

Dang Didung sebetulnya tidak yakin cara seperti itu akan berhasil memikat hati rakyat. Bahkan tidak mustahil rakyat menganggapnya sebagai calon bupati yang bokek, atau malah menyebutnya pelit dan kikir. Tapi Dang Didung tidak mau memperdebatkannya. Soalnya Dang Didung sendiri sebetulnya tidak suka dengan cara-cara calon pemimpin yang pura-pura dermawan. Padahal sesungguhnya dia berbuat begitu hanya pada saat butuh dukungan rakyat. (Bersambung)
ArusRasyid

10 komentar:

NENSA MOON mengatakan...

Cerita yang sangat menarik...
seseorang yang dicalonkan menjadi bupati oleh sekelompok orang, sementara kelihatan dengan itikad dan maksud yang sangat luhur... masih menunggu kelanjutan cerita ini... apakah dukungan kelima orang ini terhadap Dang didung tulus atau memiliki maksud n tujuan tertentu...
apakah Dang dingdung benar2 bs menjadi seorang bupati yang diimpikan oleh rakyat disana..

ditunggu kisah selanjutnya...

joe mengatakan...

hm, ditunggu kelanjutannya ...

Pengusung seorang calon bupati biasanya mengharap laba dari modal yang mereka keluarkan. Dukungan juga bukan gratis. Biasanya mereka berharap mendapat proyek pengadaan atau pembanguan konstruksi ini itu :)

Trims udah mampir ke postinganku, pak Rasyid qe3

odah etam mengatakan...

cerita yang menarik mas...
bersilaturrahmi menjelang berbuka ne mas

Lulus Sutopo mengatakan...

Cerita yang Menarik Pak,..
Kirain tadi bunyi bedug maghrib,.hheheheh

hmmm..ini sebuah cerita yang sangat bagus dan menarik untuk dibaca. Demikian yang biasanya terjadi oleh para wakil rakyat dinegara kita yang mencoba mencari masa dengan cara finansial di awal dengan harapan akan mendapat ganti lebih kelak jika terpilih..
Sukses Slalu!

Herdoni Wahyono mengatakan...

Dialog yang amat menarik sekali. Artikel seperti ini menurut hemat kami amat bagus dibaca oleh masyarakat sebagai bagian dari 'pendidikan politik'. Dang Didung memang punya latar belakang yang bagus sebagai calon Bupati, hanya tidak punya modal sendiri yang cukup untuk maju bertarung dalam Pilkada. Bila didanai oleh pihak ketiga atau orang lain, tentunya ada 'kesepakatan tertentu' antara penyandang dana dengan Kang Didung bila dia jadi Bupati. Namun adakah pihak ketiga yang berani mengambil risiko ini ? Bagaimana bila gagal, maka lenyaplah uang tersebut yang digunakan untuk membiayai segala tetek bengek proses Pilkada. Bagaimana jika sanksi bagi yang terbukti bermain 'money politic' dalam Pilkada diperberat, misalnya didiskualifikasi sebagai Cabup ? Terbukti bermain 'politik uang' secara otomatis 'gugur sebagai Cabup'. Disamping itu sanksi bagi Cabup yang 'bermain curang' dalam Pilkada juga agar diperberat, tidak hanya mengulangi coblosan saja. Masyarakat Indonesia memang dalam proses pendewasaan dalam berdemokrasi. Tentunya dalam hal ini pihak Pemerintah bersama dengan DPR terus mengevaluasi hasil pelaksanaan Pilkada agar ke depan lebih baik. Trims sharingnya sobat. Salam sukses.

mixedfresh mengatakan...

cerita yang menggelitik dan menarik, di indonesia memang biasanya untuk kampanye banyak dibutuhkan "pernak pernik" untuk dibagi2 kepada pemilih, sudah jadi kebiasaan kali ya

vini vidi vucinic mengatakan...

Kalo di negri sebelah, Dang Didung mah kagak bakalan menang. Masih banyak "Ken Arok" nyang laen (he...he...he).

om rame mengatakan...

kerap sekaLi haL tersebut terjadi, kadang justru menjadikan itu sebuah ironi. yakni, di mana yg akan dicaLonkan adaLah orang yg bercita-cita muLia tetapi tim yg menyokongnya berharap ada keuntungan dibaLik itu, sehingga tidak jarang org2 yg bertujuan muLia tsb menjadi terperosok oLeh aksi sekian oknum pendukungnya.
hikmah dibaLik ini adaLah, pentingnya seseorang untuk mencermati makna dari kerja sama yg seutuhnya.

Posting Komentar