Tahun Ajaran Baru yang Bikin Mumet Orang Tua

Tahun ini, si kecil Galih, masuk Taman Kanak-kanak (TK), setelah sebelumnya tamat dari Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), tepatnya baru mau tamat (itu pasti karena di TPA tidak ada Ujian Nasional, karena itu tak ada istilah tidak lulus he he he…). Pikiran pun mulai mumet. Sebab untuk masuk TK, paling tidak saya harus menyediakan dana Rp2 juta.

Bagi orang lain, angka sebesar itu mungkin kecil, bahkan boleh jadi tak ada artinya. Tapi bagi saya, itu jumlah yang besar. Buktinya pikiran saya jadi mumet. Bahkan mulai berpikir, haruskan Si Kecil masuk TK? Tidahkah langsung masuk SD saja tahun depan?

Celakanya saya berhadapan dengan kenyataan lain, bahwa materi pendidikan untuk siswa kelas satu SD sekarang ini, berbeda dengan materi pelajaran yang diajarkan saat saya dulu masuk kelas satu SD. Sekarang ini, materi pelajaran kelas satu SD relatif “tinggi”. Dalam soal membaca misalnya, anak yang baru duduk di kelas satu SD sudah “dipaksa” harus bisa membaca. Dulu hal semacam itu baru terjadi di kelas tiga.

Itulah kenapa memasukkan anak ke TK, bagi saya, menjadi amat penting, apalagi di kota saya, Cianjur yang sebetulnya bukan kota besar, ada beberapa SD, khususnya SD swasta yang cukup favorit, mewajibkan calon siswa SD memiliki ijazah TK. Mungkin saya sendiri nanti takkan memasukkan Si Kecil ke SD favorit, tapi ke SD yang kualitasnya memang baik (hanya saja harus saya akui, mayoritas sekolah favorit itu identik dengan sekolah berkualitas, paling tidak sebuah sekolah menjadi favorit karena diawali dengan adanya kualitas yang baik dari sekolah bersangkutan).

Selain itu, dan ini menjadi hal mendasar kenapa masuk TK, yakni adanya pengenalan huruf dan angka yang relatif intensif. TK sekarang ini bukan sekedar tempat bermain dan bersosialisasi. Tapi juga TK tak beda dengan sekolah formal. Anak diajarkan membaca dan berhitung, serta hal-hal lain yang terkait dengan hubungan antarsesama, moral dan agama. Semua itu menjadi dasar yang menentukan ketika dia masuk SD, sehingga dia bisa mengikuti pelajaran SD sesuai dengan kurikulumnya.

Itu artinya anak saya harus masuk TK, dan itu tanggung jawab saya sebagai orang tua. Memang terasa mumet memikirkan untuk mencari biayanya. Tapi saya tidak pesimis. Sepanjang ada upaya untuk mencarinya (secara halal tentu saja), apa yang saya butuhkan mungkin akan kesampaian.

Sekarang ini biarlah pikiran saya mumet. Toh saya tidak sendiri. Jutaan orang tua lainnya di tanah air, saya kira sekarang ini juga lagi mumet. Bukan saja karena perekonomian nasional yang masih morat-marit yang membikin harga-harga kebutuhan pokok melambung, juga karena “penyakit klasik” menghadapi tahun ajaran baru. Sebelumnya jutaan orang tua juga bimbang, takut anaknya tidak lulus UN.

Setelah lulus, yang dari SD tentu ke SMP, yang dari SMP ke SLTA dan yang dari SLTA mungkin ke perguruan tinggi. Semua itu pelu biaya. Pasti! Tak ada yang gratis di negeri ini. Sekalipun tingkat SD dan SMP (khususnya negeri) yang disebut sebagai jenjang Pendidikan Dasar gratis. Namun pada kenyataannya tetap butuh biaya, di luar kewajiban orang tua untuk membelikan buku dan alat-alat tulis, pakaian seragam serta sepatu. Pungutan dari sekolah, sekalipun katanya sekolah gratis, tetap ada. Dan kita dipaksa memakluminya.

Apalagi di tingkat SLTA dan perguruan tinggi. Biaya yang dibutuhkan lebih besar lagi. Sekolah tingkat SLTA mana sekarang ini yang tidak memungut Dana Tahunan alias Iuran Pembangunan? Lalu perguruan tinggi. Perguruan tinggi mana yang benar-benar murah?

Mencari ilmu secara formal (dengan duduk di bangku sekolah atau kuliah di perguruan tinggi) memang mahal. Itu realitas yang harus kita terima. Kalau kita ingin memiliki selembar sertifikat berupa tanda tamat belajar atau sertifikat tanda tamat dari perguruan tinggi (ke sananya menjadi passport untuk bisa bekerja di kantoran), ya resikonya kita harus mengeluarkan banyak biaya.

Karena itu barangkali satu-satunya obat untuk meredakan “penyakit klasik” menghadapi tahun ajaran baru adalah sabar sambil berupaya mengumpulkan dana buat biaya sekolah anak kita. Tak ada yang lain saya kira. Mau apa lagi coba kalau kebijakan pemerintah dalam dunia pendidikan memang “dibiarkan untuk mahal”? Sebagai rakyat, kita kan sudah sepatutnya patuh kepada yang memerintah kita yakni pemerintah.

Atau, mau protes? Ah, gak bakalan didengar!

5 komentar:

Darin mengatakan...

Anak saya belum segede anak bapak, tapi kayaknya koq saya bisa ikut merasakan ya. Dan jadi ikut mikir juga..ckckck ternyata pendidikan di negri ini memang mahal.
Semoga ada jalan keluar untuk si kecil ya pak. Mudah2an apa yng dikeluarkan merupakan invetasi yg berharga untuk masa depannya :)

NENSA MOON mengatakan...

Di setiap tahun ajaran baru, semua orang tua di negeri ini pasti mengalami mumet... Apalagi masalahnya kalau bukan masalah biaya pendidikan yg kian tahun kian melangit...
saya sendiri tahun ini merasakan sangat mumet krn harus menghadapi 2 anak, satu masuk SMA (alhamdulillah sudah dapat SMA yg baik), satu lagi mau masuk perguruan tinggi, dan masih/akan mengikuti seleksi, diharap bisa mendapatkan PT yg baik (sekarang lg deg-degan alias masih sport jantung menunggu hasil... hehe...)

Bagi ananda Galih yang mau masuk TK tante Nensa doakan semoga mendapatkan sekolah TK terbaik di Cianjur dan ayah bundamu dilapangkan rizkinya untuk bisa memenuhi segala kebutuhanmu... Amiin!!
Buat pa Asep... semangat terus!!! Bukankah Banyak jalan menuju Roma....

rahmatea mengatakan...

itulah ironinya negeri kita ini....
pendidikan sangat mahal dan hanya terjangkau bagi mereka yang punya uang saja....kapan negeri ini bisa maju ya kang?

mung tiasa ngado'akeun wae kang...mugi sing aya jalan kaluar anu sae tur dipikarido ku Allah swt. amin.

Herdoni Wahyono mengatakan...

Setiap tahun ajaran baru banyak orang tua yang ketir-ketir dan kalang kabut memikirkan anaknya yang mau sekolah dan memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Walau bidang pendidikan telah dialokasikan dana yang cukup besar di APBN dan APBD mencapai paling tidak 20 persen, namun besarnya biaya pendidikan masih dirasakan oleh wali murid khususnya yang memasuki perguruan tinggi.
Disisi lain bagi siswa yang pandai dan berprestasi tersedia peluang beasiswa yang lumayan.
Semoga ke depan dengan cepat Indonesia dapat menjadi negara yang maju dan makmur.

mundo idiot mengatakan...

Waduh saya membaca kisah ini juga ikiut mumet Pak tapi saya tidak bisa bantu apa2 , karena menuntut Ilmu itu wajib (Primer) maka saya punya Gambaran bahwa sesuatu yang Primer Biasanya diluar perhitungan Manusia , oleh karnanya Insya Allah biaya bakal ada ,Optimis
Ikuti dukung terus Dimas Galih ,dan buat Pak RASYID harus bangga dan jangan Mumet Karena Allah memberi Rezeki sendiri buat Dimas Galih ,, Amin

Posting Komentar