De, Kau Genit Sekarang!

De, kau genit sekarang!
Siapa sebetulnya yang telah mengubahmu sedemikian drastis? Bagiku kau bukan lagi De yang aku kenal. Terlalu banyak yang berubah. Luar dan dalammu, rasanya tak aku kenal lagi. Kau seperti yang turun dari planet lain.

Kau terlalu asing dimataku, hingga ketika kita bersua di pusat pertokoan itu, pagi tadi, sama sekali tak aku sangka bahwa yang memanggilku dari sudut toko kosmetika adalah kau. Karenanya aku mohon maaf bila panggilan-panggilanmu tak aku jawab segera. Aku mesti terlongo-longo seraya mengumpulkan ingatan, merangkai kepingan-kepingan seraut wajah yang mungkin pernah aku kenal, sebelum akhirnya menghampirimu. Hal itu pun nyaris membuatku urung niat kalau saja aku tak melihat tahi lalat di sudut kiri alismu.

Betul, De. Rasanya cuma tahi lalat itulah yang tidak berubah, yang dari tanda itu aku lalu merasa pasti bahwa kau adalah De, meskipun kepastian itu berbaur dengan keterkejutan dan kekecewaan lantaran perubahanmu.

Ya, aku terkejut lantaran kau menjilat ludahmu sendiri. Dulu kau bilang, kau tak suka model rambut pendek. Katamu, “Kayak cowok saja. Lagi pula dengan rambut yang panjang, kerap bikin cowok penasaran ketika si rambut tersibak, lalu mempertontonkan pundak dan leher yang putih. Bikin cowok pengen e-hem padanya! Kau pun begitu kan, Sid?”

Aku cuma tersenyum waktu itu. Tapi sungguh aku tersenyum bukan karena hal-hal sensual seperti kata-katamu itu. Aku tersenyum lebih disebabkan bahwa kau kelihatan lebih cantik dengan rambut yang menutupi bahumu. Tapi sekarang? Kau umbar pundakmu. Kau perlihatkan lehermu. Kau pamerkan pula segalanya. Kenapa begitu, De?

Dulu kau pun tak suka jeans. Kau bilang jeans bisa mengurangi citra kewanitaanmu. Meski aku tak setuju pendapatmu waktu itu, tapi toh aku tak mampu menyuruhmu untuk sekali saja pakai celana jeans. Aku mengerti seleramu. Bahkan aku telah berjanji akan mencoba mendorong seleramu, sepanjang aku mampu dan bila takdir menjodohkan kita.

Tapi saat aku melihatmu tadi pagi, kau tak hanya ingkar janji kepada dirimu sendiri. Kau malah telah melangkah lebih jauh, melangkah pada gaya yang sebetulnya tak aku sukai. Dengan jeans belel yang teramat ketat, yang ujungnya rawing-rawing pula, kau tak hanya telah kehilangan citra kewanitaanmu, namun juga kau telah bercitra cewek jalanan.

Bahkan, De, aku punya pikiran jelek ketika bertemu tadi pagi itu, apakah kau sekarang telah menjadi gadis ganjen yang suka menggoda pria? Boleh jadi kau akan sakit hati bila kau tahu aku punya pikiran seperti itu. Tapi betul aku berpikir begitu, De. Itu karena memang sosokmu yang begitu rupa. T-shirt yang kau kenakan saja membuat aku miris. Tanpa lengan dan terlalu ketat melekat di tubuhmu. Sempat aku mencoba meyakinkan diriku waktu itu bahwa kau benar-benar pakai be-ha. Tapi tak bisa, karena ternyata. T-shirtmu yang ketat, meski dari bahan yang agak tebal, toh mampu juga memperlihatkan kewanitaanmu yang satu itu.

Lalu gaya make-upmu. Ah, terlalum menor, De. Rasanya kau bukannya bertambah cantik. Yang ada justru kau kehilangan kecantikan sejatimu. Kau kehilangan pribadi yang sebenarnya.

Aku kecewa, De. Sosokmu sekarang ini, kenapa jadi demikian? Dunia apa sebetulnya yang telah kaum masuki?

Ingin sebetulnya aku tahu. Tapi mungkin kau tak lagi pantas memberitahukannya kepadaku, sebagaimana aku mungkin tak seharusnya kecewa atas perubahanmu itu. Sebab aku tak punya lagi ikatan apupun dengan dirimu yang bisa melahirkan rasa kecewa atau keingintahuan. Kau bebas melakukan apa kehendakmu, tanpa harus mempertimbangkan keberatan-keberatanku. Apa pedulinya aku sekarang dimatamu? Begitu tentunya katamu. Dan aku anggap itu benar adanya.

Namun, De, hatiku tak bisa berkata, “Apa pun yang kau lakukan, adalah kau sendiri yang menanggung akibatnya. Kau dituduh sebagai cewek jalanan oleh orang-orang misalnya, bagiku sendiri takkan jadi soal apalagi membuat aku malu.”

Semestinya memang aku tak ambil perduli. Tapi entah kenapa, selalu saja aku ingin kau tetap sebagai De sebagaimana yang aku kenal, sebagaimana yang dulu pernah aku cintai.

Betul, aku kecewa, De, sebagaimana dulu aku juga kecewa atas ketidaktegasanmu memilih satu di antara dua, aku atau dia. Kalau misalnya dulu kau secara tegas bilang bahwa kau cinta lelaki itu, aku mungkin sekarang tak lagi menyimpan rasa apapun, dan aku bisa terbebas dari kekecewaan atas perubahan sikap dan penampilanmu saat ini. Namun karena justru kau tidak memilih satu di antara dua itu, aku jadi berpikiran bahwa kau sebetulnya tak bisa melepaskan keberadaanku, sekaligus kau tak bisa membangkang atas kehendak kakakmu yang lebih senang kehadiran lelaki itu ketimbang kehadiranku.

Kau bilang kau melepaskan keduanya -- aku dan dia -- oleh karena kau ingin menunjukkan betapa sukar posisimu saat itu. Aku mengerti. Dan aku memahami keputusanmu, meski aku sangat kecewa karenanya.

Yang kini aku takutkan, De, kau berubah oleh karena pemberontakanmu terhadap kakakmu itu. Apakah kau juga sebetulnya kesewa? Kalau ya, mengapa mesti dengan sebuah perubahan yang sedemikian rupa? Kau kehilangan kelembutanmu yang dulu pernah meruntuhkan keangkuhanku. Kau kehilangan citra keibuanmu yang dulu aku banggakan.

Terasa bagiku sebuah tusukan teramat dalam ketika tadi padi pagi kau tanya aku, “Kau malu ya, Sid, ngobrol sama aku? Yah aku memang begini sekarang!” Itu kau katakan padaku tentu lantaran kau melihat sikapkku yang seakan-akan keberatan berduaan dengan perempuan yang dandanannyan mirip penyanyi rock akan manggung. Bukan malu sebetulnya, De. Namun aku mencoba merenungkan nasib apa yang menimpamu sebetulnya hingga kau demikian berubah. Pertanyaanmu itu, bagiku, lantas sedikit melahirkan gambaran bahwa kau sebetulnya tak sungguh-sungguh ingin berpenampilan seperti itu.

Aku lantas sadar, kau rupanya kompensasi belaka. Dan kau perkuat pula dengan pengakuanmu, “Aku tak lagi tinggal bersama kakak. Aku ngontrak rumah sendiri.” Aku tahu kau selama ini merasa terkungkung dengan sejumlah aturan yang diterapkan kakakmu, yang mungkin tujuannya demi kebaikanmu sendiri. Sejak lama aku tahu itu.

Ya, tak bisa aku menyalahkanmu,De. Cuma saja perubahan drastis, bagiku terasa mengecewakan. Padahal kita belum setahun berpisah. Aku belum benar-benar mampu menghapus kenangan lama. Bayang-bayangmu masih sering muncul dalam mimpi-mimpiku. Dan masih pula memenuhi lembaran-lembaran diary-ku ini.

Sekarang pun, lantaran pertemuan tadi pagi, aku merasa bukannya bisa membunuh bayanganmu secara sempurna disebabkan kau tak lagi sesosok De yang dulu. Namun justru aku jadi lebih gelisah. Entah kenapa, muncul tuntutan nuraniku agak aku mencoba menyelematkanmu dari kemungkinan lebih buruk; agar aku mencoba mengembalikanmu pada sosok De yang pernah aku kenal. Paling tidak kau menjadis sosok De yang bercitra.

Tapi De tidakkah untuk berbuat itu, aku harus kembali mengulang cerita lama? Mencoba mengumpulkan kembali kepingan-kepingan cinta? Bagaimana pula bila kau saat ini sudah tidak sendiri lagi? Tak sempat aku menanyakan hal itu tadi pagi. Kau keburu pamitan sebelum aku tahu banyak tentang dirimu saat ini.

De, kau genit sekarang!
Tapi kenapa kegenitanmu bikin aku gelisah?

(Cerpen ini pernah dimuat di HU Bandung Pos sekitar awal tahun 90-an. Saat itu nama yang saya pakai adalah A.Ruslih Rasyid, sebagaimana umumnya karya fiksi dan non-fiksi saya era 2000 ke bawah).

6 komentar:

Gilang kurniaji mengatakan...

Cerpennya bagus banget... Jadi kepengen belajar nulis-nulis karya sastra seperti jaman sma dulu. Dulu waktu masih diajar bu guru bahasa indonesia idolaku, semangat menulis sastra begitu besar. Tapi kini setelah masuk menjadi orang2 "teknik", semangat itu mulai memudar... huhu

ARUS RASYID mengatakan...

Malu juga kalau dibilang bagus banget. Padahal menurut saya sih biasa aja. Kalau baca postingan di Warkop IT, tutur bahasanya juga udah mirip sastra. Tinggal ditambah dikit, yakni melamun he he he... Kan sastra isinya cuma fiksi, hasil dari melamun.
Trims atas komentarnya ya

Cakrabuwana mengatakan...

Cerita pendeknya hebat ya, maju terus kang..

Prie mengatakan...

wahhh asyikk banget, mengalir kayak air sungai ... wusss , sukses mas ...

ARUS RASYID mengatakan...

Terima kasih mas prie atas komentarnya.

rahmatea mengatakan...

coba kang di bundel bikin e book, ceuk abdi mah sarae cerpen na. maju terus kang.

Posting Komentar